Cerpen Killer Love Story

LOVE & KILLER

Sudah lebih dari satu bulan ini aku terus memikirkannya. Gadis yang ku temui di halte bus sekitar tiga puluh hari yang lalu. Pertemuan pertama kita sungguh tidak mengesankan. Tapi kejadian itu aku akan terus mengingatnya. Kata-katanya yang seolah sangat membenciku. Aku suka caranya yang berbicara kasar. Tatapannya yang akan membuat semua pria lari. Gadis yang dingin, pemberani dan penuh percaya diri.
 “Tuan bisa tolong matikan rokok anda”
kata-kata itu terus berbisik di telingaku,saat aku menyalakan benda berasap yang sangat ku sukai ini. Semakin aku memikirkan gadis itu semakin pula aku menyukai benda yang terus ku hisap setiap harinya ini.
***
“Kakak”
Suara seorang pemuda yang sudah tidak asing lagi terdengar di telingaku telah membuyarkan lamunan indahku. Pemuda itu duduk di sebelahku. Pemuda bernama Ricko atau aku menyebutnya seorang teman. Tidak, bahkan keluargaku hanyalah dia. Ya, dia adalah keluargaku satu-satunya meskipun kita tidak ada hubungan darah di antara kita.
Ricko, dua tahun lebih muda dariku. Tapi dia memutuskan untuk keluar dari panti asuhan bersamaku. Saat itu usiaku sudah menginjak 17 tahun dan karena keadaan, Ibu panti melepasku untuk mencari jati diri dan memberiku beberapa uang untuk hidup sementara. Selanjutnya aku harus mencari pekerjaan agar bisa terus menjalani hidup karena usiaku sudah bukan usia anak-anak lagi. Sedangkan Ricko bocah tengil itu terus mengikutiku kemanapun Aku pergi. Awalnya Ibu panti tidak mengizinkan bocah ini pergi, karena usianya belum mencukupi untuk bisa hidup sendiri. Tapi Ricko tetap pergi bersamaku meninggalkan panti asuhan. Tempat dimana kami ditinggalkan oleh orang tua kami.
“Apa?” jawabku pelan dan singkat. Menoleh ke arahnya sekilas lalu menatap lurus kedepan lagi.
“Kita punya pekerjaan baru nih” Ucap Ricko dan  memberiku sebuah foto. Mataku membulat dan aku langsung berdiri saat melihat orang yang ada di foto tersebut.
“Kenapa? kakak kenal sama orang ini” tanya Ricko penasaran melihat reaksiku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Gadis ini, gadis yang ada di foto ini adalah gadis yang setiap malam hadir di dalam mimpiku. Bagaimana mungkin aku melakukannya. Ya, aku dan Ricko adalah seorang pembunuh. Lebih tepatnya pembunuh bayaran. Itulah pekerjaan yang sudah kami jalani selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Orang-orang kaya atau orang-orang bangsawan-lah yang biasanya memberi kami pekerjaan ini. Dengan melayangkan satu nyawa saja kita sudah dibayar ratusan juta. Maka tidak heran jikalau aku dan Ricko bergonta-ganti mobil setiap harinya. Kami sangat membenci orang-orang yang memakai seragam coklat yang biasanya mengatur lalu lintas di jalan. Penegak hukum. Aku tidak  yakin di negara ini ada semacam anggota seperti itu. Buktinya aku dan Ricko sudah sepuluh tahun lebih mereka incar, tapi kami tetap bisa hidup bebas selama ini.
“Kak?” lagi-lagi Ricko mengagetkanku.    “jadi gimana kita terima gak?” tanya Ricko lagi, untuk  meyakinkan.
“Ya, kita terima saja” jawabku. Ricko langsung tersenyum senang.
***
Malam ini aku dan Ricko menjalankan misi yang sudah kami susun rapi beberapa hari yang lalu. Tepat tengah malam, gadis itu duduk di halte bus sendiri. Memang benar-benar gadis yang pemberani.
Ricko sembunyi di balik tembok tidak jauh dari tempat gadis itu duduk. Sedangkan aku bersembunyi di belakang pohon tepatnya di seberang jalan. Aku mengamati gadis itu dengan seksama. Masih sama seperti satu bulan yang lalu saat kita pertama bertemu.
Gadis itu sungguh cantik,ditambah dengan menggunakan benda yang menempel di telinganya, membuat ia lebih kelihatan manis. Entah sedang mendengarkan apa dengan benda di telinganya itu, yang jelas dia sedang mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum. Oh, tidak. Senyum itu, sungguh terlihat nyata. Aku yang biasanya melihat senyum itu di dalam mimpi, sekarang aku melihatnhya benar-benar tersenyum dengan mata kepalaku sendiri.
Tidak menyangka bahwa pertemuan kita yang kedua harus terjadi seperti ini. Aku akan melihatnya mati di depan mataku sendiri. Semakin aku melihatnya, semakin berat hati ini untuk melenyapkannya.
Ricko memberiku kode dengan tanda OK di  jari-jarinya. Dia keluar dari persembunyiannya dan langsung mengarahkan pisau tajam ke arah gadis itu. Aku dengan sigap berlari ke arah gadis itu dan Ricko. Dan  saat ini terjadi aksi yang tidak di inginkan di antara kita. Entah apa yang sedang ku lakukan sekarang. Ku angkat kedua tanganku dan Ricko tergeletak di tanah dengan cairan merah yang mengucur dari perutnya.
“Aaaaaaa” gadis itu menjerit histeris.
 Mobil-mobil dan suara sirine yang sangat kubenci mengelilingi otakku yang sedang tidak waras ini. Orang-orang yang menjadi musuhku keluar dari dalam mobil-mobil itu. Mereka memasukkan Aku dan gadis itu ke dalam mobil yang penuh dengan suara sirine. Aku tidak bisa apa-apa lagi selain mengikuti orang-orang atau yang biasa disebut polisi tersebut. Aku yakin saat ini aku sedang tidak sadar. Dari dalam mobil aku bisa melihat melalui kaca, tubuh Ricko yang penuh dengan darah mereka menutupinya dengan plastik hitam sehingga aku tidak bisa melihatnya lagi. Pikiranku kacau, otakku benar-benar sudah tidak waras. Aku membunuh keluargaku satu-satunya. Ricko, teman yang rela meninggalkan panti asuhan diusianya yang masih anak-anak demi untuk menemaniku. Kini aku sudah membunuhnya. Namun disisi lain aku senang karna gadis yang duduk di sebelahku ini selamat.
***
“Jadi apa yang sebenarnya terjadi, apa benar orang ini yang menyelamatkan anda dari pembunuh tadi” tanya seorang polisi kepada gadis di sebelahku dengan menunjuk lima jarinya ke arahku.
Gadis itu hanya mengangguk dan berkata “Ya”.
Setelah beberapa jam pemeriksaan di kantor polisi akhirnya aku dan gadis cantik yang ternyata aku ketahui bernama Vanessa itu bisa bebas. Aku ikut diselidiki karena mereka menganggap aku adalah saksi sekaligus penyelamat. Bagaikan seorang pahlawan yang menyelamatkan gadis cantiknya.
“Trimakasih tuan”
Ucap gadis itu singkat dan tersenyum ke arahku setelah kita sama-sama keluar dari kantor polisi yang memakan waktu sampai pagi untuk menyelidiki kami. Sepertinya mulai pagi yang cerah ini hidupku benar-benar berubah.
“Kau masih sama seperti dulu, memanggilku tuan. Hey, apa aku terlihat tua? Aku kira kita seumuran”jawabku yang membuatnya bingung.
“Apa kita saling kenal sebelumnya tuan?” tanya Vanessa lagi.
Gadis ini benar-benar tidak mengenal ku. Lalu ku keluarkan benda kesukaan ku dari kantong, dan menyalakan api dari korek. Setelah menyala, langsung ku hisap dan mengeluarkan asapnya dari hidung dan mulutku. Gadis itu langsung mengenaliku.
“Astaga..Anda yang ku temui di halte bus waktu itu. Tuan perokok”
ucapnya sambil mengamati wajahku untuk memastikan. Setelah basa-basi dan perkenalan kecil, kami memutuskan untuk mencari makan dan berbincang-bincang lebih lanjut.
***
Selanjutnya, kau tau apa yang tejadi dengan hidupku?. Sejak saat itu aku sering bertemu dengan Vanessa. Bahkan aku pindah ke sebuah apartemen yang dekat dengan rumahnya. Hari-hari kami berjalan dengan sangat baik, bahkan sangat baik hingga akhirnya aku sudah berani untuk mengutarakan perasaan ku. Tidak hanya itu, aku melamar Vanessa untuk menjadi istriku.
 “Apa kau mau menikah denganku?” ucapku tanpa ragu setelah menyuguhkan surprise yang romantis. Dengan tetesan air mata Vanessa menganggukkan kepalanya.
Empat bulan sudah berlalu. Tidak banyak yang berubah setelah kami menikah. Hubungan kami semakin membaik setiap harinya. Aku tidak mengatakan apa-apa tentang masa lalu ku dan dia juga tidak mengatakan apa-apa tentang masa lalunya. Kami sudah sepakat untuk tidak melihat ke belakang. Aku, Song Joong Ki dan Vanessa hanya saling mencintai untuk sekarang dan kedepannya. Itulah janji kami berdua.
Hari ini adalah hari libur, Aku duduk di sofa santai sambil minum kopi dan membaca koran. Hal seperti ini adalah hobi baruku, karena Vanessa melarang ku merokok lagi. Selain karena alasan mengganggu kesehatan ku, juga karena istriku itu sangat membenci asap rokok.
Aku sesekali melihat ke arah pintu menunggu Istriku pulang karena pagi-pagi sekali dia sudah pamit keluar sebentar. Aku tidak pernah bertanya kemana dia keluar. Aku hanya mempercayainya. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian ku untuk melihat ke arahnya. Betapa terkejutnya Aku saat seorang lelaki masuk ke dalam rumah kami. Aku mengawasinya dari balik tirai. Laki-laki itu menghempaskan tubuhnya di sofa seolah ini rumahnya sendiri. Laki-laki itu menutup mata nya. “Ceklek” terdengar suara pintu dan itu Vanessa. Laki-laki tadi membuka mata dan berjalan menghampiri Vanessa. Sebelum itu Aku lari ke arahnya dengan membawa vas bunga berukuran besar dan ku hantamkan benda berat yang ku pegang itu tepat di kepalanya. Ia jatuh tersungkur di hadapanku dan Vanessa. Aku senang sudah menyelamatkan orang yang ku cintai untuk yang kedua kalinya.
“Aaaaaa” Vanessa menjerit histeris. Suaranya sama seperti saat dia menjerit waktu itu. “Dasar pembunuh. Kau masih tetap pembunuh Joong Ki” teriakan Vanessa dengan bergelinangan air mata sudah membanjir di pipi indahnya. “Jangan bergerak” sama seperti waktu itu, polisi-polisi datang mengeliliku. Tapi saat ini berbeda, Aku adalah pembunuh. Itulah kata Vanessa, istriku. Ada apa ini sebenarnya, apa Aku salah menyelamatkan istriku sendiri. Siapa laki-laki itu. Kenapa Vanessa menangis hanya karna laki-laki itu. Dan apa maksud perkataannya “kau masih tetap pembunuh”. Beribu-ribu pertanyaan memutari otakku.
Aku duduk di kursi yang sama sekali tak nyaman ini. Kedua pergelangan tanganku dilingkari oleh benda sekeras besi, borgol. Salah satu polisi yang duduk di depanku menjelaskan semuanya dengan detail. Mulai dari istriku, Vanessa. Ternyata namanya bukan Vanessa, melainkan Krystal. Dia adalah anggota polisi yang bekerja sebagai mata-mata. Khususnya memata-matai seorang pembunuh seperti ku, itulah pekerjaannya selama ini. Sedangkan laki-laki tadi adalah kakak kandungnya. Pantas saja dia  menangis histeris seperti tadi. Jadi, selama ini dia sudah tahu identitas ku. Bahkan kejadian beberapa bulan yang lalu dia sendiri-lah yang mengirimkan fotonya kepada ku dan Ricko. Meskipun sudah banyak penjelasan dari polisi ini, masih banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan untuk Vanessa, atau siapalah dia. Yang jelas Aku mencintainya dengan tulus. Aku berubah karena-nya. Aku melakukan semua untuknya. Penjelasan yang barusaja ku dengar, telah mengiris-iris hati ku. Sulit untuk mempercayai keadaaan yang rumit ini. Aku masih belum percaya sebelum mendengarkan langsung dari mulut Vanessa.
Seminggu kemudian. Hari-hari ku lewati dengan sangat pedih di dalam sel seperti neraka ini. Aku hanya ingin bertemu dengan istriku dan meminta dia menjelaskan langsung dari mulutnya. Namun sudah seminggu berlalu, dia belum terlihat batang hidung nya untuk menemuiku. Tubuhku lemas, jelas saja karena tidak ada makanan ataupun minuman yang melewati tenggorokanku selama seminggu ini. Aku hanya duduk di pojok ruang dengan memeluk kedua kakiku, dan menenggelamkan wajahku ke lutut-lututku. Mungkin saat ini, Ricko sedang tersenyum bahagia melihat penderitaan ku. Dan juga puluhan nyawa yang sudah ku lenyapkan. Kurasa mereka semua sedang bahagia sekarang.
“Apa kau baik-baik saja?” suara itu mampu membuatku mendongakkan kepala. Aku melihatnya jelas dengan kedua mataku, itu Vanessa istriku. Aku bangkit dan mendekatinya. Tanganku memegang besi-besi penjara yang memisahkan jarakku dan Vanessa saat ini. “Kau..” ucapanku terhenti. Aku tidak tahu harus memulai bicara dari mana. “Aku tidak perlu menjelaskan ulang karna tentunya anggota polisi di sini sudah menceritakan semuanya” ucapnya.
“Apa kau..” ucapanku terhenti lagi. Air mataku mengalir begitu saja dari pelupuk mataku. Aku tidak menyadarinya. “ Apa kau benar-benar mencintaiku? seperti yang kau ucapkan sebelumnya atau itu juga...........”
“Aku mencintaimu Joong Ki. Song Joong Ki, tuan perokok. Maaf aku melakukan ini..” Ucap Vanessa. Dia menangis, sepertinya dia merasa bersalah kepadaku. Tapi dia juga seperti senang memenjarakanku.
“Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dan merawatnya. Aku akan menunggumu” ucap Vanessa seraya menunduk dan memegang perutnya. Dia sedang hamil anak kami.
Sebelum dia pergi, aku menanyakan keadaan kakaknya. Ternyata kakaknya, yang juga sebagai kakak iparku masih hidup. Aku lega mendengarnya. Lalu Vanessa pergi lagi dan mendoakan yang terbaik untuk persidanganku nanti.
Sebentar lagi persidanganku dimulai. Aku sama sekali tidak merasa cemas, khawatir, ataupun takut sama sekali. Meskipun nanti sidang menentukan bahwa aku dipenjara 100 tahun, setidaknya Aku tahu kalau Vanessa masih mencintaiku dan mau menungguku. Aku sudah bahagia.

20 TAHUN KEMUDIAN....
“Selamat ya Joong Ki. Saya harap kita tidak akan pernah bertemu lagi di sini” ucap seorang penjaga sel setelah membukakannya untukku. Hari ini, setelah ku tunggu selama dua puluh tahun. Hari dimana Aku dinyatakan bebas dari hukumanku. “Aku juga tidak akan pernah kembali kesini lagi”
Aku menghirup udara segar dalam-dalam. Kurasakan kesejukan pagi yang cerah ini. Setelah kuamati, banyak yang berbeda dari dua puluh tahun yang lalu. Jalan ini dulu masih asli dengan tanahnya, sekarang sudah berganti dengan benda keras atau orang menyebutnya aspal. Juga banyak kendaraan yang lewat. Dan tentunya semakin ramai karena banyak juga orang-orang yang berjalan. Aku tertarik dengan seorang gadis muda yang berdiri di seberang jalan. Lebih tepatnya Aku penasaran dengan benda yang dibawanya. Benda tipis dan berbentuk persegi yang ada di tangannya. Aku mendekatinya. Aku mendengar dia sedang berbicara dengan benda tersebut. “Mama cepetan jemputnya..aku kepanasan ini” ucap gadis yang terdengar manja lalu dia mematikannya dan menyadari keberadaanku.
“Paman ngapain ya?” tanya gadis muda cantik itu. “Oh..Itu..” Aku menggaruk-garukkan kepalaku karena bingung harus menjawab apa.
“Vanessa..” terdengar suara memanggil ke arah kami. Dan suara itu tidak asing terdengar di telingaku. Kami menoleh bersamaan.
“Mama..” gadis yang di panggil Vanessa itu berlari ke arah seorang wanita yang turun dari mobil. Aku terkejut saat tahu bahwa wanita itu adalah Vanessa, gadisku. Dia melihatku, aku melihatnya. Terjadi saling pandang cukup lama diantara kami.
“Vanessa..”panggilku. “Ya..”gadis muda tadi menjawab dan menoleh ke arahku karena merasa namanya dipanggil. Vanessa, atau lebih tepatnya Krystal berhambur memelukku erat. Aku merindukan pelukan hangat dari orang yang kucintai ini. Orang yang mampu membuatku bertahan hidup sampai saat ini. Gadis bernama Vanessa tadi, dia anakku. Kami menceritakannya setelah sampai rumah. Dia menangis dan memelukku.


Seperti itulah kisah hidupku yang panjang. Kisah hidupku yang sekeras batu telah menjadi lunak setelah Aku mengenal yang namanya cinta. Cinta telah merubah segalanya. Cinta telah memberiku kebahagiaan. Walau akhirnya cinta telah memenjarakanku, tapi cinta itu juga yang membuatku menemukan kebahagiaan. Akan kunikmati masa-masa tuaku ini bersama orang-orang yang kucintai.




Komentar

Posting Komentar